Adab Orang-orang Beriman Kepada Allah S.W.T

BERAKHLAK MULIA DIHADAPAN

ALLAH عزّوجلّ

Ustadz Abu Abdillah al-Atsari خفظه الله



Publication : 1433 H, 2012 M 
Berakhlak Mulia dihadapan Allah عزّوجلّPenyusun : Ustadz Abu Abdillah al-Atsari خفظه الله

KEDUDUKAN AKHLAK DALAM ISLAM
Adab Orang-orang Beriman Kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم, keluarga, dan sahabatnya. Amma Ba’du:
 Sungguh agama Islam telah menempatkan akhlak mulia sebagai sifat yang sempurna, karena AllAh Robbul 'alamin sangat mencintai akhlak mulia dan membenci kebalikannya. Sebagaimana dalam sebuah hadits:
إِنَّ اللهَ يُـحِبُّ مَعَالِيَ الْأُمُورِ وَأَشْرَفَهَا وَيَكْرَهُ سَفْسَافَهَا
"Sesungguhnya AllAh mencintai perkara-perkara yang mulia dan membenci perkara yang rendahan." (H R. Thobroni: 2894, Ibnu Adi I/114, al-Qudho'i 2/89. Lihat ash-Shohihah: 1627)
Dengan demikian dapat kita pastikan bahwa akhlak termasuk ibadah. Karena tidak ada satu pun perkara yang dicintai-Nya kecuali dia termasuk bagian ibadah dan perkara yang urgen dalam agama. Rosululloh صلي الله عليه وسلم sendiri telah menegaskan bahwa akhlak merupakan ibadah yang agung yang dapat mengangkat derajat seorang mu`min, berdasarkan hadits:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ
"Sungguh seorang mu'min dapat meraih derajat orang yang sholat dan puasa karena akhlaknya yang bagus." (H R. Abu Dawud: 4798, Hakim I/60, Ibnu Hibban: 1927, dishohihkan oleh al-Albani dalam ash-Shohihah: 795)
Karena perkaranya yang agung dan urgen, Pembuat syari'at yang mulia ini tidak luput untuk memperhatikan masalah akhlak. Bahkan, boleh kita tegaskan bahwa agama ini seluruhnya adalah akhlak.
Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: "Agama ini seluruhnya adalah akhlak, barangsiapa memperbaiki akhlaknya maka baik pula agamanya." (Madarijus Salikin 2/320)
Cukuplah dalil-dalil syar'i sebagai bukti bahwa Islam adalah agama yang selalu mengajarkan dan menganjurkan berakhlak mulia. Di antaranya ialah firman AllAh:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah engkau pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (QS. al-A'rof [7]: 199)
AllAh juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.... (QS. at-Tahrim [66]: 6)
Sahabat mulia Ali bin Abu Tholib رضي الله عنه mengatakan: "Yaitu ajari dan didiklah mereka." (Tafsir ath-Thobari 28/165)
Yang menguatkan pula bahwa Islam adalah agama yang memperhatikan masalah akhlak adalah diutusnya Nabi kita صلي الله عليه وسلم sebagai pembawa panji terdepan dalam masalah akhlak. Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّـمَا بُعِثْتُ لِأُتَـمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad 2/381, Bukhori dalam Adab Mufrod: 273, Hakim 2/613, dihasankan oleh al-Albani dalam ash-Shohihah: 45, Shohih Adab Mufrod: 207)
Imam Ibnu Sirin رحمه الله mengatakan: "Dahulu para sahabat mempelajari  adab  sebagaimana mereka mempelajari ilmu." (Tadzkirotus Sami'wal Mutakallim hal. 14, oleh Ibnu Jama'ah al-Kinani, cet. Dar Kutub llmiyyah. Lihat pula Mausu'ah al-Adab al-lslamiyyah hal. 13, oleh Abdul Aziz Futuhi, cet. Dar Thoyyibah)
Demikian pula para ulama robbaniyyin sebagai pewaris para nabi, mereka bangkit menyeru umat agar berhias dengan akhlak mulia melalui pena dan tulisan yang mereka  goreskan dalam kitab-kitab mereka. Mereka sangat serius dan penuh perhatian, bahkan menjadikan akhlak sebagai ciri khas aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Abu Utsman ash-Shobuni رحمه الله berkata: "Mereka (ahlul hadits) menganjurkan untuk mengerjakan sholat malam setelah tidur, menyambung silaturrohim, menyebarkan salam, memberi makan, mengasihi fakir miskin dan anak-anak yatim, dan peduli terhadap masalah kaum-muslimin." (Aqidatus Salaf wa Ashhabul Hadits hal. 101)
Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله dalam kitabnya, al-Aqidah al-Washithiyyah, setelah memaparkan aqidah dan prinsip dasar Ahlus Sunnah, beliau mengatakan: "Dan mereka Ahlus Sunnah menyeru untuk berakhlak mulia, berbuat kebajikan, meyakini makna hadits Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, mereka menganjurkan untuk menyambung hubungan orang yang memusuhi, memberi dan memaafkan orang yang men-zholimi, serta berbuat baik kepada kedua orangtua." (Syarh al-Aqidah al-Washithiyyah 2/352)
Dari penjelasan di atas, jelaslah kesalahan orang yang mengagumi orang kafir barat dan mengatakan bahwa mereka lebih bagus akhlaknya daripada kaum muslimin, mengatakan bahwa Islam agama pedang dan kekerasan, tidak berakhlak!? Tidak, sekali-kali tidak, Islam tidak boleh dihina hanya karena terkotori oleh segelintir pemeluknya!! Islam adalah agama yang menyerukan berakhlak mulia sebagaimana telah jelas dari uraian di muka. (Lihat Makarimul Akhlaq hal. 5 oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Ittihaf Thullab Bi Syarhi Manzhumah al-Adab hal. 3 oleh Syaikh Sholih al-Fauzan)[1]

1.  Lihat kembali tulisan kami “Meraih Akhlak Mulia” (Edisi I Thn.5: 1426H)
Label : AkhlakAqidah
ADAB KEPADA ALLAH
Sekarang mari kita masuki inti pembahasan kali ini, yaitu adab kepada AllAh. Jika ada yang bertanya mengapa topik ini perlu dibahas, kami jawab: bahwa masalah adab atau akhlak adalah masalah penting yang tidak bisa dianggap sepele, terlebih lagi adab kepada AllAh. Apabila sesama manusia kita dituntut untuk beradab, sopan santun, dan sebagainya maka tentu lebih utama lagi kita harus mempunyai adab kepada AllAh. Yang kedua, anggapan sebagian orang bahwa adab itu hanya kepada manusia, tentu ini adalah anggapan yang keliru, atau bahkan kita katakan kesalahan yang fatal, karena dengan demikian kita akan melalaikan hak terbesar yang harus diberikan oleh setiap insan kepada Penciptanya yaitu beribadah dengan mentauhidkan dan tidak menyekutukan-Nya.

Ibnul Qoyyim   berkata: "Maksud adab kepada AllAh adalah menegakkan agama-Nya, beradab dengan adab-adabnya secara zhohir dan batin. Tidaklah sempurna adab seseorang kepada AllAh kecuali dengan tiga perkara: mengenal nama dan sifat-sifat-Nya, mengenal agama dan syari'at-Nya, mengenal apa yang Dia cintai dan Dia benci dengan jiwa yang pasrah dan siap menerima kebenaran secara ilmu dan amal." (Madarijus Salikin 2/438, tahqiq Amir bin Ali Yasin). Lalu bagaimanakah beradab kepada AllAh?
Pertama:MENTAUHIDKAN DAN TIDAK MENYEKUTUKAN-NYA
Inilah hak dan adab terbesar yang harus diberikan oleh seorang hamba kepada Allah, mentauhid-kan-Nya dalam peribadahan dan tidak menyekutukan-Nya sedikit-pun.
Allah berfirman:
وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya....” (QS.an-Nisa'[4]:36)
Al-Hafizh Ibnu Katsir رحمه الله mengatakan: "Allah memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya saja dan jangan berbuat syirik, karena Dialah yang memberi rezeki, yang memberi nikmat, yang Maha memberi keutamaan kepada makhluk-Nya pada setiap waktu dan keadaan. Dialah yang paling berhak agar mereka mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan seorang makhluk pun." (Tafsir Ibnu Katsir 2/297 —tahqiq Sami bin Muhammad as-Salamah-)
Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda:
يَا مُعَاذُ هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ: حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
"Wahai Mu'adz tahukah kamu apa hak Allah yang wajib bagi para hamba dan hak hamba bagi Allah?" Mu'adz رضي الله عنه menjawab: "Allah dan Rosul-Nya yang lebih tahu." Nabi صلي الله عليه وسلم menjelaskan: "Hak Allah yang wajib bagi setiap hamba adalah agar mereka mentauhidkan dan tidak menyekutukan-Nya. Dan hak hamba bagi Allah adalah Allah tidak menyiksa orang yang tidak menyekutukan-Nya." (HR. Bukhori: 128, Muslim: 30)
Hasan al-Bashri رحمه الله pernah ditanya: "Adab apakah yang paling bermanfaat?" Beliau menjawab: "Tafaqquh di dalam agama, zuhud di dunia, dan mengenal kewajiban yang harus engkau berikan kepada Allah." (Madarijus Salikin 2/428)

Berkata Ibnul Qoyyim رحمه الله: "Tujuan mulia yang dapat menghantarkan kebahagiaan dan keselamatan bani Adam adalah mengenal Allah, mencintai, menyembah hanya kepada-Nya, dan tidak berbuat syirik. Inilah hakikat perkataan seorang hamba: La llaha Illalloh (Miftah Darus Sa'adah 3/27 -tahqiq Ali bin Hasan al-Halabi-)
Kedua:MENERIMA KABAR DARI ALLAH DENGAN MENGIMANI DAN MEMBENARKANNYA
Hal ini terwujud tanpa keraguan secuilpun dalam hati seorang muslim terhadap berita dan kabar yang datang dari Allah. Sudah sepantasnya bagi siapapun mengimani dan membenarkan berita Allah, karena berita yang datang dari-Nya pasti benar. Allahعزّوجلّ menegaskan:
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللهِ حَدِيثاً
.... Dan siapakah orang yang lebih benar perkataannya daripada Allah? (QS.an-Nisa' [4]: 87)
Syaikh Abdurrahman as-Sa'di رحمه الله mengatakan: "Ini adalah penjelasan bahwa kebenaran perkataan dan kabar-kabar-Nya berada pada derajat tertinggi. Oleh karena itu, setiap yang dikatakan dalam masalah aqidah, ilmu, atau amalan yang menyelisihi apa yang Allah kabarkan maka ketahuilah bahwa itu adalah sebuah kebatilan karena jelas-jelas bertentangan dengan kabar yang lebih benar dan yakin." (Taisir Karim Rohman hal. 195)

Sebagai contoh, kabar yang datang dalam al-Qur'an berupa perkara ghoib, atau hadits-hadits Rosululloh صلي الله عليه وسلم yang sekilas nampak tidak masuk akal, maka sikap yang benar dan harus kita kedepankan adalah membenarkan dan mengimani berita tersebut dan tidak menolaknya sedikitpun walaupun akal ini tidak bisa menjangkau atau jiwa merasa belum siap menerimanya. Karena berita yang datang dari Allah adalah benar tidak ada keraguan sedikitpun, dan sesuatu yang yakin tidak boleh ditolak hanya dengan keraguan atau sesuatu yang belum jelas. Demikianlah, selayaknya kaum muslimin beradab kepada Allah dalam kabar dan berita yang datang dari-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: "Nash-nash yang telah tetap di dalam Kitab dan Sunnah tidak boleh ditentang hanya dengan akal semata, maka apa yang telah jelas kebenarannya tidak boleh ditentang hanya dengan keraguan atau kerancuan yang belum jelas kebenarannya." (Muwafaqoh Shohihil Manqul li Shorihil Maqul 1/126)
Ketiga:MENERIMA DAN MELAKSANAKAN SEGALA HUKUM-HUKUM ALLAH
Hendaklah  seseorang tidak menolak hukum-hukum yang telah Allah tetapkan kepada seluruh makhluk-Nya. Jangan menolak ketetapan hukum Allah baik dengan pengingkaran, sombong, atau hanya karena malas melaksanakannya, semua ini temasuk adab yang jelek kepada Allah. Ingatlah, kita lahir ke dunia ini untuk sebuah tujuan yang agung yaitu beribadah kepada-Nya serta berhukum dengan hukum-hukumnya. Allah عزّوجلّ berfirman:
إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ أَمَرَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ
“.... Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS.Yusuf [ 12]: 40)
Contoh pertama, ibadah puasa. Tidak diragukan lagi, puasa terasa berat bagi jiwa karena mening galkan makan dan minum yang merupakan kebutuhan jiwa. Namun sebagai seorang muslim kita harus menerima hukum ini dengan lapang dada, dan melaksanakan sepenuh hati, inilah bentuk adab kepada Allah.
Contoh kedua, sholat. Barangkali, sholat terasa berat bagi sebagian orang, apalagi bagi orang munafik. Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda:
أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ
"Sholat yang paling berat bagi orang munafik adalah sholat Isya' dan Shubuh." (HR. Bukhori: 644, Muslim: 651)
Akan tetapi, sholat bagi orang mu'min sejati apabila dikerjakan dengan ikhlas, sepenuh hati, dan menyadari bahwa ini adalah perintah Allah, akan terasa ringan.
Allah berfirman:
وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ. الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Robbnya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS.al-Baqoroh [2]: 45-46)
Berakhlak mulia kepada Allah dalam hal sholat adalah dengan mengerjakannya sedangkan hatimu tenteram dan senang, merasa rindu dengan sholat apabila waktunya akan datang, atau ketika engkau belum melaksanakannya.  Maka gantungkanlah hatimu pada sholat, perbagusilah kondisimu dan perhatikanlah syarat serta rukun-rukunnya karena hal itu termasuk berakhlak baik kepada Allah عزّوجلّ.
Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda:
وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
“Dan dijadikan pandangan sejuk mataku di dalam sholat." (HR. Nasa'i: 3939, Ahmad 3/128. Lihat al-Misykah: 5261, Shohihul Jami': 3134)
Contoh ketiga, pengharoman riba. Ini dalam masalah mu'amalah. Riba termasuk keharaman yang telah Allah haramkan dengan tegas. Allah عزّوجلّ berfirman:
وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“....Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharomkan riba. Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Robbnya, lalu terus berhenti dari mengambil riba, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu dan urusannya terserah kepada Allah. Sedangkan orang yang mengulangi mengambil riba maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqoroh [2]: 275)
Orang yang beriman menerima hukum ini dengan lapang dada, ridho, dan pasrah. Dia meninggalkan riba dalam seluruh bentuk mu'amalah.

Imam Abul Hasan al-Asy'ari mengatakan: "Ahlus Sunnah wal Jama'ah bersepakat wajibnya setiap makhluk ridho dengan hukum Allah yang Dia perintahkan kepada para hamba-Nya. Menerima segala perintah-Nya dan sabar dalam melaksanakannya." (Risalah ila Ahli Tsaghor hal. 244 -tahqiq Abdulloh Syakir Muhammad-)
Keempat:SABAR DAN MENERIMA KEPUTUSAN ALLAH
Kita menyadari, takdir Allah yang ditentukan kepada makhluk-Nya berbeda-beda. Dalam pandangan manusia, takdir Allah ada yang menyenangkan dan ada yang membuat derita. Sakit misalnya, hal ini tidak diinginkan oleh manusia. Contoh lain ialah kemiskinan, ini pun tidak kita inginkan, karena kita semua ingin hidup kecukupan, tetapi takdir Allah berbeda-beda sesuai dengan hikmah-Nya, lalu bagaimana sikap yang benar dan beradab dalam menerima takdir Allah?
Yaitu engkau ridho dengan ketentuan Allah dan meyakini bahwa hal itu sudah ketentuan-Nya. Takdir Allah mengandung hikmah yang mungkin tidak kita ketahui baik dan buruknya, maka bersabar dan berprasangka baiklah kepada-Nya. Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ. الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
“Dan sungguh akan Kami beri cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengatakan:"lnna lillahi wa inna ilaihi roji'un." (QS. al-Baqoroh [2]: 155-156)
Rosululloh bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
"Sungguh mengherankan perkara orang mu'min itu, semua perkaranya baik dan tidaklah hal itu ada kecuali pada orang mu'min. Apabila memperoleh kesenangan dia bersyukur dan itu baik baginya. Apabila kesusahan menimpanya dia bersabar dan itu pun baik baginya." (HR. Muslim: 2999, Ahmad 5/24, Darimi: 2780)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: "Hendaknya seluruh manusia ridho menerima segala ketentuan Allah berupa musibah yang menimpanya. Semisal Allah mengujinya dengan kemiskinan, sakit, kehinaan, gangguan manusia, dan sebagainya. Karena sabar dalam menerima musibah adalah wajib sedangkan ridho sangat dianjurkan." (Majmu' Fatawa 8/191)
Kelima:MEYAKINI BAHWA HUKUM ALLAH MEMBAWA KEBAIKAN DAN KEADILAN BAGI HAMBA-NYA
Hal kita perhatikan pula, tidak ada satu pun hukum atau syari'at yang Allah embankan kepada para hamba-Nya kecuali akan membawa kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat mereka. Hukum Allah seluruhnya adil dan sesuai dengan kemampuan para makhluk. Tidak ada kebaikan sedikitpun kecuali telah dijelaskan dan tidak ada kejelekan kecuali kita telah diperingatkan akan bahayanya. Maka jangan sampai ada prasangka bahwa hukum Allah itu tidak adil, tidak sesuai zaman dan sebagainya. Allah عزّوجلّ berfirman:
وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقاً وَعَدْلاً لاَّ مُبَدِّلِ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Telah sempurnalah kalimat Robbmu, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-An'am [6]: I 15)
Imam Qotadah رحمه الله berkata: "Yaitu benar di dalam janji-Nya dan adil di dalam hukum-Nya. Benar dalam seluruh berita-Nya dan adil dalam perintah-Nya. Maka seluruh yang Allah kabarkan adalah benar, tidak ada keraguan. Seluruh perintah-Nya adil, tidak ada yang berbuat adil selain-Nya. Seluruh yang Dia larang adalah batil karena Allah tidak melarang kecuali dari kejelekan dan bahaya." (Tafsir Ibnu Katsir 2/322)
Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: "Apabila engkau memperhatikan syari'at-syari'at agama Allah yang Dia embankan kepada para hamba-Nya, niscaya engkau akan mendapati bahwa syari'at-Nya selalu membawa kebaikan.

Apabila berbenturan beberapa kebaikan, didahulukan yang lebih penting dan lebih besar kebaikannya. Demikian pula, syari'at ini selalu menolak bahaya. Apabila saling berbenturan, dihilangkan bahaya yang paling besar. Karena itulah, Allah sebagai Hakim yang seadil-adilnya meletakkan asas ini, sebagai dalil akan kesempurnaan ilmu dan hikmah-Nya serta kemurahan dan kebaikan-Nya kepada para hamba." (Miftah Darus Sa'adah 2/362)
Keenam:
MENGAGUNGKAN AL-QURAN KALAMULLOH
Al-Qur"an adalah Kalamulloh, maka merupakan bentuk perwujudan beradab kepada Allah adalah dengan memuliakan dan semangat untuk mempelajarinya. Berusaha untuk merenungi, mentadabburi, dan memahami isinya, kemudian mengamalkan dan mengajarkan kepada manusia. Berakhlak dan beradab dengan adab-adab yang pantas, tidak merendahkan al-Qur'an dengan menempatkan pada tempat yang kotor, atau malah menghinakannya, semua ini tidak pantas dan tidak beradab karena al-Qur'an termasuk kalam-Nya yang mulia yang diturunkan kepada Nabi yang mulia صلي الله عليه وسلم.[1] Allah berfirman:
وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ. نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ. عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ
“Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Robb semesta alam. Dan dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. asy-Syu'aro' [26]: 192-194)



1.  Untuk mengetahui bagaimana adab terhadap al-Qur’an, silakan baca kembali tulisan kami pada Edisi 2 Thn.3 (1425 H) dan edisi 2 Thn.4 (1425 H)
Ketujuh:BAIK SANGKA KEPADA ALLAH
 Allah Maha mengetahui kondisi para hamba-Nya. Maka apabila ada hukum Allah yang menurut persangkaan kita tidak baik, janganlah hal itu menjadikan kita berburuk sangka kepada Allah. Misalnya ketika kita berdoa dan belum dikabulkan, hilangkanlah perasaan bahwa Allah tidak mengasihi kita, ini bentuk kurang adab kepada-Nya. Berbaik sangkalah kepada Allah karena Dia akan menuruti persangkaan para hamba-Nya. Berdasarkan hadits:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ اللَّهُ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
“Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda: Allah berfirman: "Aku menuruti persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku." (HR. Bukhori: 7405, Muslim: 2675)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله berkata: "Makna hadits ini, Allah akan menuruti persangkaan hamba-Nya. Dia akan memperlakukan hamba-Nya sesuai persangkaan hamba itu kepada-Nya berupa kebaikan atau kejelekan." (Fathul Bari 13/472)
Kedelapan:SANTUN DALAM BERBICARA
Maksudnya, janganlah lancang dalam berbicara tentang Allah, sopan dan santunlah ketika menyandarkan sesuatu kepada-Nya. Contoh ucapan yang perlu diluruskan adalah menyandarkan kejelekan kepada Allah, seperti ucapan: "Takdir memang kejam, ya Allah, apa dosaku sehingga engkau memberi kesusahan ini"; ini tidak patut diucapkan, bahkan Rosululloh صلي الله عليه وسلم mengajarkan kita agar tidak menyandarkan kejelekan kepada-Nya. Beliau bersabda:
وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ

"Kejelekan itu tidak disandarkan kepada-Mu." (HR. Muslim: 771)
Kesembilan:MENGENAL DAN MENGAMALKAN KONSEKUENSI NAMA DAN SIFAT ALLAH
Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
"Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa menghitungnya, masuk surga." (H R. Bukhori: 6410, Muslim: 2677)
Abu Nu'aim al-Ashbahani  رحمه الله mengatakan: "Maksud menghitung dalam hadits di atas bukan hanya sekedar menghitung, tetapi mengamalkan, memahami makna nama-nama-Nya dan mengimaninya." (Fathul Bari II/271)
Maka termasuk bentuk adab kepada Allah dalam nama dan si-fat-Nya adalah memahami dengan baik nama dan sifat-Nya serta mengamalkan tuntutannya.

Contohnya, Allah mempunyai nama as-Sami' (Maha Mendengar) dan al-Bashir (Maha Melihat). Maka termasuk tuntutannya adalah engkau menetapkan dua nama ini dengan tidak menyerupakan kepada seorang pun, meyakini kesempurnaan dzat Allah dan engkau merasa terawasi bahwa Allah akan mendengar dan melihat segala perbuatanmu. Takut Allah akan melihat kita ketika sedang berbuat maksiat, takut Alloh akan mendengar kita pada perkara yang tidak diridhoi-Nya. Dan barangsiapa yang meyakini bahwa Alloh mempunyai nama al-Aziz (Maha Perkasa) maka dia tidak akan tunduk kecuali hanya kepada Allah, tidak merendahkan diri kecuali hanya kepada-Nya. Demikianlah seterusnya pada nama-nama dan sifat-Nya. (Lihat Syarh al-Aqidah al-Washithiyyah 1/208, Mausu'ah al-Adab al-lslamiyyah hal. 36)
Kesepuluh:MEMBELA DAN MENDAKWAHKAN AGAMA ALLAH
Setelah seorang muslim memahami dengan baik hak-hak dan adab-adab kepada Allah, maka tuntutan berikutnya adalah dia mendakwahkan agama Allah ini semampunya kepada manusia, terutama bagi yang telah Allah anugerahi ilmu. Mendakwahi manusia agar mentauhidkan Alloh semata dan tidak berbuat syirik, menyeru manusia agar kembali kepada agama yang lurus. Inilah jalan yang telah ditempuh oleh para rosul -aiaihimushsholatu was salam-. AIIoh عزّوجلّ berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan: "Sembahlah Allah saja dan jauhilah thoghut." (QS. an-Nahl [16]: 36)
Orang yang berdakwah di jalan Allah adalah sebaik-baik manusia. Allah berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang sholih dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS. Fushshilat [41]: 33)
Demikian pula, hendaknya setiap muslim memiliki rasa cemburu dan pembelaan terhadap agama ini dari makar orang-orang yang hendak menghancurkan dan merusak agama Allah. Camkan perkataan emas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berikut ini:
"Agama ini tidak bisa dihapus selama-lamanya, akan tetapi kadangkala di dalamnya masuk penyelewengan, perubahan, dan kedustaan yang membuat rancu antara kebenaran dan kebatilan. Maka sudah sepantasnya Allah membangkitkan orang-orang yang bisa menegakkan hujjah sebagai penerus para rosul, mereka menghilangkan penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, (membantah) kedustaan orang-orang yang berbuat batil dan takwil orang-orang yang bodoh. Allah menampakkan kebenaran sebagai kebenaran dan menghancurkan kebatilan walaupun orang-orang musyrik membencinya." (Majmu' Fatawa I 1/435)

Demikianlah beberapa adab kepada Allah yang dapat kami kumpulkan dari penjelasan para ulama. Sebenarnya masih ada beberapa adab lainnya, namun kami kira penjelasan di atas sudah cukup mewakili. Semoga menjadi tambahan ilmu bagi kita semua dan bermanfaat bagi kaum muslimin di manapun berada. Amin. Allohu A'lam. []
Back To Top