Metode berfikir dan pengambilan hukum agama antara jahiliyah dan islam

Metode berfikir dan pengambilan hukum agama antara jahiliyah dan islam
Metode berfikir dan pengambilan hukum agama antara jahiliyah dan islam
Berfikir dan bertadabbur merupakan salah satu dari keistimewaan manusia yang dengannya Allah melebihkan manusia dengan makluk lainnya. Allah telah mengkaruniakan kepada manusia seperangkat alat untuk berfikir berupa penglihatan, pendenganran dan hati. Allah berfirman:


وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu, dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." – (QS. An-Nahl 16:78)
Yang jelas bahwa setiap manusia pasti memiliki keistimewaan ini yang selalu mereka pakai untuk setiap aktivitas hidup mereka. Meskipun pasti akan terjadi perbedaan antara mereka yang baik dan yang buruk. Di antara mereka juga ada yang menggunakan karunia tadi untuk mencari keridhoan Allah, namun ada juga yang justru hanya mengundang murka-Nya. Di bawah ini akan dijelaskan perbedaan cara pandang jahiliyah dengan Islam.

Secara Umum bahwa sistem Jahiliyah memiliki metode berfikir yang rusak, Diantaranya adalah:
1. Tidak pernah mau menggunakan indra mereka dengan sebenarnya. Dalil tentang ini sebagaimana yang disebutkan Allah dalam Al Qur'an:


وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
"Dan sesungguhnya, Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam, kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." – (QS. Al-A'raf 7:179)
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

"Dan mereka berkata: 'Sekiranya (dahulu di dunia) kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala'." – (
QS. Al-Mulk 67:10)
2. Mereka bersandar pada khurafat dan dongeng dongeng terdahulu. Hal ini terjadi tatkala mereka telah menumpulkan peran indra mereka, maka sebagai alternatif mereka menjadikan cerita-cerita khayal sebagai sandaran. Dari sinilah bermulanya peribadatan terhadap berhala dan benda-benda di alam semesta. Dengan cara berfikir yang seperti ini maka rusaklah pemahaman mereka, jauh dari subtansi ilmiah, hingga akhirnya dongeng-dongeng itulah yang menjadi hakim pemutus perkara mereka baik dalam masalah keyakinan maupun amalan-amalan lainnya, bahkan dongeng-dongeng itulah yang menjadi undang-undang dasar pengaturan hidup mereka dalam bermasyarakat.
Di antara bukti tentang hal ini adalah:
- Mereka memiliki keterikatan hubungan yang kuat dengan sihir dan praktik praktik perdukunan Dalilnya QS. Al-Baqarah 2:102
- Mereka sangat mengagungkan Jin dan setan. Jika diantara mereka ada yang hendak memasuki sebuat tempat atau lembah yang masih dianggap asing, maka terlebih dahulu mereka akan memohon perlindungan kepada penjaga tempat itu dari kalangan Jin Dalilnya QS. Al-Jin 72:6
- Mereka sangat yakin dengan thiyarah(keyakinan tentang nasib yang baik atau buruk berdasarkan perilaku burung, kucing atau binatang lainnya).

3. Cara berfikir jahiliyah tidak lebih dari sekedar materialis. Dalilnya QS. Al Isra 17:90-93, QS. Al-Baqarah 2:55, QS. Al-Maidah 5:112. Nilai kebenaran dan kebatilan didasarkan pada tolak ukur materi dan panca indra. Allah, Surga, Neraka, Hari kiamat, Malaikat dan segala hal yang ghaib dianggap sebagai kebohongan dan kebatilan, karena tidak digapai dengan panca indra; mata, telinga, hidung dan kulit. Hanya hal-hal konkrit dan bisa dicapai panca indra saja yang mereka percayai
4. Mereka selalu menolak dalil-dalil yang sudah pasti, hal itu disebabkan taklidnya mereka kepada nenek moyang mereka. Dalam Al Qur'an Allah menyebutkan tiga bentuk taklid nenek moyang mereka:
- Mereka sangat keterlaluan dalam mentaati bapak-bapak dan nenek moyang mereka, dalailnya QS. Az-Zukhruf 43:22-23 dan QS. Al-Baqarah 2:170.
- Mereka taklid buta kepada para pemuka agama dan ahli ibadah di kalangan mereka, sekalipun ucapan dan perbuatan para pemuka agama dan ahli ibadah tersebut menyelisihi  syari'at Allah dan Rosul-Nya, Dalilnya QS. At-Taubah 9:31.
- Mereka taklid kepada para pemimpin, para raja, dan pembesar mereka, Dalilnya QS. Al-Ahzab 33:66-68, QS Saba 34:31-33 dan QS. Ghafir 40:47-48.
5. Mengikuti Hawa Nafsu
Allah mengisahkan tentang sekelompok manusia yang menjadikan hawa nafsu mereka sebagai ilah selain Allah yang selalu mereka turuti, berdasarkan firman Allah dalam surat QS. Al Qashash 28:50, dan QS. Al-Jatsiah 45:23.
Demikianlah jika hawa nafsu telah menguasai jiwa seseorang maka ia terhalang dari berfikir dengan akal yang jernih. Jika sudah demikian, tak ada lagi ruang bagi dalil dan bukti-bukti nyata, karena nafsu akan menolak itu semua. Pada saat itulah manusia akan menjadi tawanan hawa nafsunya, sehingga ia tak lagi dapat melihat kebenaran dan petunjuk.
6. Mengikuti Hawa Nafsu
Jika manusia jahiliyah telah kehilangan timbangan ilmiah berfikir mereka , maka sudah dapat dipastikan bahwa metode berfikir mereka akan terbangun diatas prasangka mutlak tanpa didukung dengan bukti-bukti nyata. sebagaimana firman Allah dalam Surat QS. Al-An'am 6:116 dan QS. Yunus 10:36.
Jika pemikiran mereka sudah terbangun di atas prasangka semata maka sudah bisa dipastikan bahwa hasil akhir dari semua itu adalah kesesatan dan penyimpangan.
Back To Top