Larangan merendahkan atau meremehkan orang lain sesama muslim


Larangan merendahkan atau meremehkan orang lain sesama muslim
Seringkali kita lihat ada orang yang meremehkan orang lain karena melihat tampilannya semata. Karena kefakirannya, pekerjaannya, atau kekurangan fisiknya. Padahal, boleh jadi orang itu lebih tinggi derajatnya dari kita, lebih banyak memberikan manfaat bagi umat islam, lebih berat timbangan amalnya, dan lebih mustadzab  doa' nya dibandingkan kita. Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم mengingatkan;

"Berapa banyak orang yang kusut berdebu, mengenakan dua lembar kain usang, ia tidak dihiraukan manusia, namun ketika dia berdoa' kepada Allah, Niscahya Allah pasti mengabulkannya" (HR. Tirmidzi).

Bisa jadi, banyak orang yang seperti itu di sekitar kita. Mereka Laksana Permata, namun disangka orang sebagai batu biasa.

Tidaklah bijak, seseorang meremehkan, melecehkan atau melakukan penghinaan kepada orang lain apalagi terhadap sesama muslim, hanya karena melihat sifat khalqiyyah(fisik/keadaan) semata, yakni sifat yang memang seperti itu Allah ciptakan. Menghina ciptaan, berarti menghina Pencipta-nya.

Tidak pantas seseorang dipuji atau dicela, dalam hal yang ia tidak ada pilihan kecuali hanya menerima pemberian dari Penciptanya. Dihina karena warna kulitnya hitam, Di cela karena cacatnya fisik seseorang atau, dilecehkan karna memiliki nasab(keturunan) bukan dari bangsawan melainkan dari budak atau dari suku yang rendah.

Para Mufasir menjelaskan Asbabunuzul tentang turunnya Firman Allah QS. Al-Hujurat 49:11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain, (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan), dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk, sesudah iman, dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." – (QS.49:11)

Para mufasir menjelaskan bahwa turunnya ayat ini mengenai perihal Sahabat atau sahabiyat Nabi صلى الله عليه وسلم  yang bagus keislamannya, namun orang tuanya dikenal sebagai orang yang tidak baik, kafir atau bahkan dedengkot kafir. Ada yang menyebut ayat tersebut turun terkait celaan orang terhadap Ummul mukminin Shafiyah yang diejek dengan sebutan Yahudiyah(keturunan yahudi). Ada pula yang berpendapat ayat itu terkait dengan penghinaan atas sahabat Ikrimah bin Abi Jahal, karena bapaknya Tokoh kafir Quraysh. Dan ada pula yang mengaitkan dengan kasus seorang sahabat yang berebut tempat duduk di majlis Nabi صلى الله عليه وسلم , lalu orang yang tidak menerima menyebut-nyebut ibu lawan bicaranya yang dikenal bukan wanita baik-baik. Itu semua bukan hasil ulahnya, sehingga ia tidak layak dicela. Yang layak dicela atau dipuji ialah sifat atau karakter yang ia diberi peluang untuk memilih dan mengupayakannya, Seperti sifat khuluqiyyah atau perangai, dan ketundukannya terhadap perintah dan larangan.

Tidak layak pula seseorang dihina karena kefakirannya. Karena rejeki adalah jatah yang Allah berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan dengan kadar yang Allah kehendaki pula. Yang layak dinilai adalah usahanya dalam menerima jatah rezeki yang Allah tetapkan, bagaimana jika ditakdirkannya kaya dan bagaimana ditakdirkannya fakir. Sisi yang layak dinilai adalah kesabaran dan tingkat syukurnya, bukan kaya atau miskinnya.

Benarlah sabda Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم 
"Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk fisikmu, bukan pula pada hartamu, akan tetapi Dia melihat hati dan perbuatanmu" (HR. Muslim)
Back To Top