Kaidah-kaidah dasar di dalam berfikir dan beristidlal

Kaidah-kaidah dasar di dalam berfikir dan beristidlal
Kaidah-kaidah dasar di dalam berfikir dan beristidlal
Diantara kaidah-kaidah dasar di dalam berfikir dan beristidlal tersebut adalah:
1. Mengagungkan Ilmu dan meletakkannya pada tempat yang tertinggi, juga mengecam kejahilan dan mengingatkan akan bahayanya.


أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ
"(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung), ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam, dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat, dan mengharapkan rahmat Rabb-nya?. Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui, dengan orang-orang yang tidak mengetahui'. Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran." – (QS. Az-Zumar 39:9)


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: 'Berlapang-lapanglah dalam majelis', lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: 'Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." – (QS. Al-Mujadilah 58:11)

Dengan bersandar kepada ilmu, maka akan tumbanglah segala khurafat dan dongeng-dongeng dusta itu, ketergantungan kepada para pembohong itupun menjadi hilang, cara berfikir menjadi lurus dan ia bersinar dengan cahaya petunjuk. Dengan demikian, keyakinan, ucapan dan perbuatan seorang hamba benar-benar dibangun diatas bashirah dan petunjuk.

2. Ikhlas dan Benar-benar mencari kebenaran.
Keikhlasan merupakan dasar utama yang akan mengarahkan seseorang kepada kebenaran. Jika segala sesuatu didasari dengan hawa nafsu, bahkan hawa nafsu tadi sudah mengalahkan hati nurani, maka ia takkan mampu untuk mengetahui yang baik (Haq) dan mengingkari yang buruk (Bathil). Allah menjanjikan akan memberikan petunjuk (Furqon) kepada siapa saja yang bertaqwa (Ikhlas) kepada-Nya;


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
"Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan(pembeda antara yang Haq dengan yang Bathil) dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." – (QS. Al-Anfal 8:29)

3. Bersandar kepada Hujjah dan bukti nyata
Ini merupakan karakter yang paling menonjol tentang metode berfikir dan beristidlal di dalam Islam, yakni menegakkan sesuatu di atas bukti dan alasan yang kuat, bukan prasangka semata. Dalam Islam, perkara yang besar maupun yang kecil senantiasa dalam timbangan yang pas, semua yang berdalil itulah kebenaran dan semua yang tidak berdalil itulah kebatilan. Dengan demikian, batallah semua bentuk khurafat dan kesesatan berfikir yang semuanya tidak berangkat dari atsar dan pandangan yang benar. 


وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
"Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: 'Sekali-kali tidak akan masuk surga, kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani'. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka, yang kosong belaka. Katakanlah: 'Tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar'." – (QS. Al-Baqarah 2:111)


قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الأرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ اِئْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
"Katakanlah: 'Terangkanlah kepadaku, tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkanlah kepada-Ku, apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini, atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit. Bawalah kepadaku kitab yang sebelum (Al-Qur'an) ini, atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar'." – (QS. Al-ahqaf 46:4)


لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami, dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan telah Kami turunkan bersama mereka, Al-Kitab dan neraca (keadilan), supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi, yang padanya terdapat kekuatan yang hebat, dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu), dan supaya Allah mengetahui, siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya, padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya, Allah Maha Kuat, lagi Maha Perkasa." – (QS.57:25)

4. Al-Qur'an memerintahkan manusia agar berfikir melihat tanda-tanda kekuasaan Allah.


إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ


الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal," – (190) "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Rabb-kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." – (191) (QS. Ali-Imran 3:190-191)


لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأولِي الألْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para nabi) itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." – (QS. Yusuf 12:111)
Back To Top