Yang Benar dalam pengucapan Lebaran atau Ied Fitri ?

Ghuroba - Yang Benar dalam pengucapan Lebaran atau Ied Fitri ?

Yang Benar dalam pengucapan Lebaran atau Ied Fitri ?

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
السلام عليكم 
Oleh :
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى
Dalam kamus ummat Islam Indonesia ada sebutan lebaran dan kalau dalam kamus muslimin jawa ada sebutan ba’do atau bodo. Kedua sebuatan ini memiliki makna yang serupa yaitu telah usai atau telah berakhir.
Karena itu wajar saja bila pada hari tersebut banyak dari kita terinspirasi dengannya sehingga bersikap seperti “mantan napi” alias melampiaskan segala hasrat dan kesenangannya.
Sikap kita seakan orang yang terbebas dari belenggu, jejingkrakan seakan tidak akan terbelenggu lagi.
Sebutan tersebut mengesankan bahwa pada hari raya ini kita terbebas dari belenggu puasa ramadhan. Sehingga pada acara lebaran kita balas dendam dengan melampiaskan segala hasrat makan, minum dan syahwat kita.
Sebutan tersebut tentu saja berbeda dengan istilah syar’i yang diajarkan dalam islam. Perayaan hari ini dalam islam disebut dengan ied yang artinya sesuatu yang terulang secara terus menerus. Sehingga sebutan ini membawa pesan bahwa segala yang ada pada ramadhan pasti akan kembali lagi.
Perjuangan mengekang hawa nafsu akan terus terulang bahkan terus berkesinambungan. Keutamaan Allah kepada ummat Islam yang berhasil melepaskan diri dari jerat hawa nafsunya juga akan terus berkelanjutan. Karena itu ummat Islam terdahulu yang benar benar memahami arti iedul fitri selalu waspada walaupun ramadhan telah berakhir.
Mu’alla bin Al Fadhel mengisahkan:
كانوا يدعونالله تعالى ستة أشهرأن يبلغهم رمضان ثميدعونه ستة أشهر أنيتقبل منهم
Dahulu mereka (para ulama’ terdahulu) selalu berdoa kepada Allah Taala selama 6 bulan agar diberi kesempatan mendapatkan bulan ramadhan. Selanjutnya mereka juga berdoa selama 6 bulan berikutnya agar amalan mereka di bulan ramadhan dapat diterima. (Al Ashfahany)
Mereka waspada karena sadar bahwa perjuangan melawan hawa nafsu belum berakhir namun terus berlanjut. Perjuangan untuk menjadi hamba Allah yang selalu mengobarkan semangat “sami’na wa atha’na” ( kami mendengardan kamipun patuh” juga belum berakhir namun masih terus berlangsung.
Sepenuhnya mereka memahami bahwa hanya akan berakhir bila hayat mereka juga telah berakhir dengan datangnya ajal, Allah berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَحَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan beribadahlah kamu kepada Rab-mu hingga datang keyakinan/ ajal kepadamu (al Hijer 99)
Back To Top